Showing posts with label Kampus Biru Dalam Cerita. Show all posts
Showing posts with label Kampus Biru Dalam Cerita. Show all posts

Tuesday, 29 March 2016

JENGGOT MENGGANGU AKTIVITASMU....?

Sahabat, suatu ketika saya ditegur orang tua, “Nak, cukur jenggotmu, untuk apa pelihara jenggot, nanti tidak ada yang pakai dengan penampilanmu seperti ini”. Saya hanya tersenyum menyikapi nasehat orang tua. Beliau benar-benar khawatir anaknya tidak bisa menggapai cita-cita gara-gara memanjangkan jenggot.

Sahabat, saya ingin katakan bahwa saya ini awam akan agama, ngaji masih banyak kelirunya. Suatu waktu saya pernah minta diajari ngaji sama anak pesantren. Subhanallah, hampir tidak ada yang benar tajwid yang saya baca. Saya hanya hafal beberapa surat pendek, saya merasa malu untuk itu.
Saya memiliki keyakinan bahwa saya sangat mencitai baginda Nabi Muhammad saw. Tidak ada manusia yang saya idolakan selain beliau, walau banyak perintah beliau yang absent saya lakukan. Jenggot ini mungkin kecil maknanya, tapi setiap saya memegangnya saya membayangkan nabi kita tercinta.

Sahabat, alhamdullilah, sudah lebih dari 10 tahun jenggot menjadi identitas diri saya. Alhamdullilah Allah tidak juga menyia-nyiakan hamba-Nya yang mau berusaha dan berdoa. Berbagai tim saya ikut terlibat di pemerintahan provinsi, sehingga berbagai rapat penting pemerintahan saya ikuti, saya mengenal pejabat-pejabat teras di provinsi saya. Berbagai seminar saya diundang sebagai pembicara, beberapa kali sebulan saya menjadi host di televisi siaran live tanpa sedikitpun terganggu dengan penampilan saya.

Saya akan tetap berjalan dengan keyakinan kecil ini, bahwa jenggot ku sebagai bentuk keinginan untuk meniru nabiku, kekasihku. Saya hanya berdoa semoga hal kecil ini menjadi berat timbangannya di mata Allah. SWT ditengah kemampuan dan kekuatan iman yang sedemikian lemahnya.

Tuesday, 14 October 2014

Mahasiswa, Hindari Hiburan Malam ya..!!

Saya mungkin dianggap kolot,“ndeso” oleh teman sepergaulan. Lebih dari 16 tahun saya hidup di Kota Pariwisata ini, yang konon katakan surganya turis asing dan domestik, belum pernah sekali-pun saya menginjakan kaki di tempat hiburan malam semacam nigh club, bar dan sejenisnya untuk sekedar menikmati malam minggu.
Pulau lombok is paradise kata bule, pulau yang sangat menawan, dianggap surga bagi pelancong. Panorama hutan dan pantainnya membius pendatang tuk lama di sini. Salah satu kawasan yang tersohor, bahkan sampai manca negara adalah kawasan senggigi. Sebuah kawasan pantai yang berdiri hotel-hotel mewah, restoran dan juga tempat hiburan malam.
Seperti di tempat-tempat lain, tempat hiburan malam di sana hanya rame di malam hari. Namanya juga hiburan malam. Pagi dan siang hari tidak seramai malam hari. Ya, mungkin orang yang ada disitu pada tidur (nggak tahu juga sih, saya belum pernah menelitinya). Muda-mudi biasanya berangkat dari rumah sekitar jam setengah sepuluh malam dan kembali kerumah pagi hari.

Lokasi Menenentuan Prestasi

Dalam perkuliahan sebenarnya apa yang paling dicari mahasiswa? Jujur, saya belum melakukan survey untuk menjawab secara pasti, namun saya yakin yang paling penting adalah nilai IPK. Pemilik otak jenius, belajar banting tulang untuk memperoleh IPK tinggi. Pemilik otak jongkok belajar banting piring untuk membuat “repean” semalam suntuk, juga demi IPK tinggi. Jadi semua butuh IPK tinggi.
Bedanya, ada yang belajar keras dan jujur menggapai IPK tinggi. Ada setengah jujur, artinya kadang belajar “sendiri” kadang juga belajar buat repean. Ada yang sama sekali tidak ada usaha, kerjanya kalau tidak nyontek, ya minta keteman. Tipe yang terakhir ini memiliki moto posisi menentukan prestasi. Saat ujian, ibarat kuda yang baru dilepas dari kandang, cepat mencari posisi aman (kursi paling belakang saat) ketika ujian.

Kos-Kostan Ku

Aristoteles memberi tiga alasan dalam membangun persahabatan, yaitu berdasar cinta kasih, utilitas (kepuasan) dan religi (kesalehan). Bersahabat dengan balutan cinta kasih adalah persahabatan tulus tanpa tendeng asih, suka-duka, senang sedih dilalui bersama. Tidak perduli ras atau golongan.
Sahabat berdasar utilitas adalah sahabat hanya berorientasi kepuasan dan kebutuhan sesaat. Kita sulit mengatakan sahabat macam ini akan langgeng oleh waktu. Contoh yang paling kongkrit adalah persahabatan dalam dunia politik, sekarang bisa saja bersahabat namun boleh jadi tidak esoknya.
Persahabatan religi dibalut oleh kesalehan biasanya terbangun dari intra kelompok atau berdasar asas kesamaan agama tertentu. Seorang yang saleh akan bersahabat dengan orang saleh lainnya. Sebaliknya premen biasanya akan bersahabat dengan preman lainnya. Dua zat kimia golongan ini akan sulit disatukan, alih-alih dijadikan sahabat. Dua-duanya akan menyatu hanya dan jika hanya salah satu melebur ke yang lainnya, preman tobat menjadi ustad atau ustad malah menjadi preman.
Nabi SAW juga pernah menggariskan bagaimana pentingnya sahabat, dan bagaimana mencari lingkungan yang tepat dalam mencari sahabat. Bila kita bergaul dengan pedagang minyak wangi maka kita akan ikut wangi, sebaliknya bila kita bergaul dengan minyak tanah kita akan terkontaminasi aroma minyak tanah pula.
Belajar di Universitas salah satu hal penting adalah menemukan lingkungan baik itu, yaitu lingkungan yang terdiami oleh orang-orang baik dan soleh. Sehingga, bagi mahasiwa yang harus ngekos carilah lingkungan kost yang baik, lingkungan kost yang penghuni-penghuninya bijak dan mapan dalam hidup.
Sengaja atau tidak saya juga terbentuk oleh lingkungan kost-kostan yang baik. Entah kebetulan atau tidak kost saya dihuni oleh orang-orang mapan, yang telah bekerja dan berkeluarga. Bagi saya lingkungan kost adalah rumah tangga, menggantikan peran orang tua yang tengah jauh dari kita. Seakan ada orang tua yang mengawasi dan memberi nasehat atas perilaku kita di rantauan.
Saya bergaul dengan seorang pegawai negeri, wiraswasta dan dosen di perguruan tinggi negeri. Sedikit banyak mereka mengungkapkan pengalaman mereka masing-masing, sehingga menambah pengalaman dan pemahaman saya akan hidup.

Ontologi Cita-cita

Hampir setiap kita waktu kecil pernah ditanya, yang tanya itu mungkin orang tua, guru atau paman, bila sudah besar mau jadi apa. Jawabannya tentu beragam. Ada banyak cita-cita yang ingin dicapai setiap kita, jadi dokter, pilot, astronot, guru, tentara atau polisi bahkan jadi presiden.
Dari mana munculnya cita-cita itu? Tentu dari pemahaman sempit masa kanak-kanak dan juga dari apa yang diyakini dan harapkan saat itu. Jangan tanyakan yang berat-berat deh,  apalagi kita taya makna dari cita-cita itu. Kita kaklumi saja apapun jawaban anak-anak. Ingin suntik orang, ingin bawa pesawat terbang, mau lihat bulan, ingin jadi guru seperti bapaknya atau ingin pegang senjata seperti tentara atau polisi adalah alasan logis dari pertanyaan makna dari cita-cita.

Sejuta Kenangan Orientasi Mahasiswa Baru

Saya ditugasi Pembantu Dekan III untuk membawakan materi etika dan kultur belajar di perguruan tinggi di depan ribuan mahasiswa baru (Maba) FE Universitas Mataram, pada bulan Agustus 2014.           Dengan antusias mereka mendengarkan ceramah saya, sesekali ketika saya menyampaikan candaan mereka tertawa lepas di auditorium berkapasitas ribuan tersebut. Rasanya mereka cukup enjoy dengan acara itu, tidak ada beban dan keterpaksaan di raut muka calon-calon pemimpin bangsa ini.
Ada hal yang lain ketika saya memperhatikan penampilan maba pada ospek kali ini. Tidak ada lagi penampilan aneh-aneh, tidak adalagi peloncohan macam-macam dari kakak panitia. Berbeda dulu ketika saya mengikuti ospek, kami dikerjai habis-habisan. Belum lagi kekerasan fisik dan psikis yang maba terima saat itu, menyebabkan dendam kesumat sulit dipangkas.
Padahal mahasiswa umumnya sangat membenci pelanggaran HAM, mengecam pembunuhan dan penyiksaan terhadap manusia. Namun, ironinya tidak jarang maba meninggal dunia karena tidak tahan dengan penyiksaan yang dilakukan senior dalam acara ospek yang tidak ada manfaat sama sekali itu.
Jadi maba serba salah, datang cepat dihukum datang telat apalagi lebih keras hukumannya. Kami harus cari benda macam-macam untuk kebutuhan ospek, itupun kami lakukan sepulang ospek yang hampir magrib. Belum sempat merebahkan badan untuk istirahat karena penatnya keseharian dalam ospek, sudah disibukan untuk mencari barang aneh-aneh.
Saya dongkol sekali dengan kakak panitia, teman-teman maba yang cantik selalu jadi perhatian, disuruh nulis surat cintalah, disuruh ngerayulah. Tidak saja yang cewek, kakak panita yang perempuan tidak ketinggalan keranjingan memperhatikan teman-teman saya yang laki, tapi khusus yang ganteng. Maba seperti saya ini jauh dari radar pandangan kakak panitia, ya maklum sudah hitam, muka pas-pasan pula.

Sukses itu Star dari Kampus

Biarkan dahulu kita bukan siapa-siapa, tidak dapat juara kelas atau bahkan selalu dipandang sebelah mata. Rasa-rasanya kita begitu mindernya karena tidak ada yang menganggap kita penting. Bandingkan dengan sang bintang kelas, menjadi pujian guru-guru dan kawan-kawan. Belum lagi face kita pas-pasan (hitam plus jerawatan), bukan pula tergolong orang kaya raya, kemana-mena pakai mobil mewah kayak di sinetron-sinetron. Sehingga menambah kegalauan hidup di masa yang harusnya kata orang indah di kala itu.
Saya berpikir pembuktian kesuksesan diri bukan prestasi SD sampai SMA, tapi pada perguruan tinggi. Perguruan tinggilah menjadi dasar pijakan kehidapan seseorang. Gagal di perguruan tinggi, sangat besar kemungkinan gagal dalam keberlanjutan hidup, atau kalau-pun sukses mungkin sukses yang tidak maksimal. Dan saya akan bercerita akan hal ini.

IQ Jenius Vs Pas-Pasan

Dalam suatu kesempatan saya mengantar keluarga di Rumah Sakit Jiwa Selagalas Mataram untuk menjenguk saudara yang sedang direhabilitasi di sana. Secara tidak sengaja saya bertemu seorang kawan yang juga tengah dirawat di rumah sakit itu. Awalnya saya lupa-lupa ingat dan tidak percaya, apa betul dia adalah kawan lama yang belasan tahun tak pernah berjumpa. Bedanya sekarang badannya tambah bongsor, melebihi dahulu ketika kami masih bersama di sekolah menengah atas (SMA).
Saya beranikan diri menghampirinya dan mendekati jeruji besi yang mirip sekali penjara di rumah sakit itu. Dia terus berjalan, bolak-balik dengan menggerak-gerakan jari tangannya. Saya pastikan itu benar kawanku dengan menanyakan namannya. Subhanallah, dia mengutarakan namanya dengan baik, dia tahu siapa dirinya bahkan dia masih ingat dengan jelas siapa saya, bahkan nama istri saya-pun masih dia ingat. Kebetulah “karena jodoh” istri saya adalah teman sendiri dari SMP sampai SMA, sehingga menjadi teman dia juga.

EKSPOS RENCANA PENYUSUNAN MASTER PLAN EKONOMI GARAM NTB

EKSPOS RENCANA PENYUSUNAN MASTER PLAN EKONOMI GARAM NTB DR. M FIRMANSYAH (DOSEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS) MENUNJU INDUSTRIALIS...