Showing posts with label Opini Media. Show all posts
Showing posts with label Opini Media. Show all posts
Sunday, 15 December 2019
Bangun Pulau Sumbawa Perlu tidak Biasa.....
Pembangunan itu ada 2 upaya yang harus serius dibangun daerah, 1). Kemampuan mendatangkan orang (wisata dan kunjungan lain) dan 2) kemampuan mendatangkan modal (investasi)
Kenapa Pulau Jawa bisa Maju, kita di NTB tidak...???
Kenapa Pulau Bali maju pariwisatanya, kita di NTB Hanya Lombok yang maju, Pulau Sumbawa tidak...???
Padahal, Kita punya modal alam yang kaya Untuk pariwisata
Padahal, Kita punya SDA Potensial yang dapat dijadikan bahan baku industri...
Persoalan Pertama sebenarnya akses konektifitas, kedua dan seterusnya urusan sosial...
Mari kita urai pelan-pelan
Banyuwangi maju, mereka buat 99 event se tahun Untuk datangkan orang...
Kulon Progo maju dengan konsep Beli dan bela Kulonprogo
Kawasan industri terpusat di Pulau Jawa.
Bali maju, kunjungan wisata jutaan orang per tahun.
Membangun Aktifitas ekonomi di Jawa lebih mudah karena pasar mendukung. Jumlah penduduk, jarak, akses transportasi, pusat perputaran uang ada di Jawa. Saya tidak kaget dan heran ketika Daerah dan desa barstatus maju dan mandiri ekonominya di Jawa.
Ada desa di Bali, yang viral karena kebersihannya sehingga banyak turis berkunjung ke sana. Lalu kita berpikir ketika ada desa di Bima melakukan hal yang sama jadi ramai turis yang berkunjung? Apakah kita mengira orang Amerika, Australia, atau Europa sengaja ke Bali sekedar menikmati Desa yang bersih?
Tentu saja tidak. Desa wisata di bali maju karena memang dari awal ada banyak wisatawan di sana, mereka tinggal tarik saja wisatawan yang ada tuk kunjungi Desa-desa itu.
Tentu secara logika tidak mungkin sekedar menikmati desa bersih, pantai yang Indah (secara konvensional) orang luar Bima mau menempuh jarak yang begitu jauh, transportasi yang mahal, transit pesawat beberapa kali, maskapai penerbangan terbatas, akomodasi pun kurang memadai. Di sana kendala mendatangkan orang di Bima.
Sehingga, Membangun wisata di Bima dan Pulau Sumbawa umumnya tidak boleh biasa-biasa saja. Perlu ada hal yang luar biasa secara kompetitif maupun komperatif. Ketika orang berkunjung saat lebaran sama dengan berkunjung rutin ke Bima di luar lebaran, maka di situ baru ekonomi wisata Bima dapat maju.
Upaya mendatangkan modal-pun demikian. Pulau Sumbawa harus membuktikan bahwa punya SDA, SDM dan Modal sosial yang tidak biasa secara kuantitas dan kualitas Untuk menarik industri ke sini.
Dengan keterbatasan potensi pasar karena jumlah penduduk terbatas, produk-produk yang diproduksi harus mampu menembus pasar nasional maupun internasional (orientasi ekspor). Caranya setelah konektifitas selesai dibenahi, langkah berikutnya tingkatkan kuantitas dan kualitas, prioritas memproduksi produk primer, yang menjadi kebutuhan mendasar pasar, punya harga menarik di pasaran dan punya nilai tambah yang luas.
lalu pertanyaannya, apakah kita bisa....??? Saya dengan optimis berkata, Insya Allah bisa!!!
Tuesday, 10 December 2019
REFLEKSI 1 TAHUN ZUL-ROHMI: NAIK LEVEL BERNARASI
OLEH:
DR. M FIRMANSYAH
Dosen FEB Unram dan Penulis Novel Sang Walikota
Sumber: SuaraNTB 24 September 2019
Waktu berjalan tanpa terasa, satu tahun sudah Dr. Zul dan Dr. Rohmi (duo doktor) memimpin NTB. Satu tahun tentu bukan waktu yang representative menilai sukses tidaknya impian Gubernur dan Wagub membangun NTB. Namun demikian, publik tentu berharap selama satu tahun ini sudah ada lembaran cerita yang mulai ditorehkan.
Beberapa hari terakhir berbagai persoalan mengemuka dan menjadi bahan diskusi di ruang publik. Mulai dari konseptual industrialisasi, pengiriman pelajar keluar negeri sampai program zero waste ramai diperbincangkan dan ditelisik dari berbagai perspektif. Ada yang berkata gagal sembari mengeluarkan kritik pedas, ada juga yang menganggap sukses. Dua-duannya kita anggap biasa sebagai sebuah dinamika.
Wednesday, 30 March 2016
BALADA PEMIMPIN versus BAWAHAN
Oleh:
Dr. M Firmansyah
(Dosen Sarjana dan
Pascasarjana FEB UNRAM)
Sumber: Opini Lombok Post 30 Maret 2015
Ada
pernyataan yang sering terlontar ketika bicara pemimpin, “pemimpin dalam memutuskan sesuatu tidak akan menyenangkan semua orang”. Ada yang bahagia
menikmati keputusannya, ada pula yang “mencak-mencak” tidak terima bahkan ditambah bumbu kata-kata tidak enak didengar, mencibir pemimpin. Semua tergantung sungguh posisi kita
di mana terhadap pemimpin. Bersama pemimpin dianggap kawan, menolak adalah lawan.
Ketidakpuasan karena dizholimi, disakiti oleh pemimpin bagi bawahan tidak diterima
secara tunggal (sama) oleh semua bawahan. Jangan anggap semua bisa “nerimo” apa
adanya dari tindakan pemimpin. Susah menemukan orang yang berkata “biarlah yang di atas sana yang membalas”. Sehingga, ada
yang menempuh jalur hukum, mencari keadilan, mencari jalan keluar
menyenangkan hati si pelapor. Kemenangan itu adalah kemenangan harga diri, kemenangan
untuk dihargai dan dihormati lebih-lebih oleh pemimpin.
Tuesday, 29 March 2016
SETELAH MANDALIKA SELANJUTNYA SAMOTA
Oleh
Dr. M Firmansyah
(Dosen FEB UNRAM dan
Penasehat Investasi Prov. NTB)
Sumber: Opini Suara
NTB, 28 Maret 2016
Sungguh-pun Kawasan Mandalika urung rampung
sampai saat ini, setidaknya ada banyak upaya yang sudah dilakukan pemerintah membangun
kawasan itu. Lebih-lebih setelah ditetapkan sebagai Kawasan Ekonomi Khusus
(KEK) Nasional, saat ini tanggung jawab pembangunan KEK tidak saja dipundak
pemerintah daerah namun juga pemerintah pusat.
Kawasan Mandalika akan dijadikan sebagai
kawasan tourism industrial cluster di
NTB bahkan mungkin menjadi percontohan di tanah air. Di sana akan terbangun kluster
hotel bintang, sekolah pariwisata, kluster perdagangan dan seterusnya. ITDC
sebagai pengelola Mandalika tengah merancang dan mempersiapkan menyulap kawasan
itu sebagai kawasan wisata besar di Indonesia. Sungguh-pun persoalan-persoalan
teknis masih saja dihadapi pengelola.
Sunday, 29 November 2015
RASIONALITAS KONSUMEN DAN INFLASI
Fondasi yang dibangun dalam konstruksi teori ekonomi adalah human rationality. Manusia dikatakan selalu berperilaku rasional, artinya lebih suka yang banyak dari yang sedikit, menghitung untung rugi (materialistis) sebelum berperilaku dan selalu menyukai kesenangan dan menghindari kepayahan, demikian menurut filosuf J. Bentham.
Pemikir-pemikir psikologi yang mencoba memahami dan meramu perilaku ekonomi tidak sependapat dengan konstruksi tersebut. Manusia berperilaku tidak saja melulu didorong oleh faktor ekonomi yang dihitung dalam nilai moneter (uang) tapi juga ada faktor-faktor lingkungan atau kelembagaan, psikologi (delusi) dan kehidupan sosial lainnya. Pemikir ekonomi psikologi ini menjadi satu bagian dalam ilmu ekonomi yang dikenal dengan behavior economics.
Bila dipikir-pikir, buat apa masyarakat kita susah payah mengumpulkan uang untuk merayakan maulid nabi bila tidak didorong oleh nilai-nilai dalam masyarakatnya. Sudah tahu orang banyak penjara karena korupsi, tapi kenapa masih saja ada pejabat yang korupsi. Di sinilah salah satu fakta bahwa manusia terkadang tidak rasional (perspektif teori) dalam berperilaku. Tidak rasional dalam perspektif ekonomi menjadi rasional dalam konteks misalnya kelembagaan ekonomi.
Irasional Konsumen dan Inflasi
Bila sekiranya manusia selalu berpikir rasional maka tidak diperlukan tim pengendali inflasi. Semua akan berjalan menuju keseimbangan. Sebagian besar perokok tahu bahwa merokok dapat merugikan kesehatannya, tapi kenapa tetap banyak perokok, yang menyebabkan permintaan akan rokok meningkat. Walau dengan menempel gambar seram (penyakit macam-macam) pada sampul rokok tidak juga menurunkan niat orang merokok. Sama halnya dengan minuman keras. Sehingga, betapa banyak orang yang membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkannya bahkan merugikannya.
Saya merenung dan berpikir, kenapa ketika harga produk naik kecuali barang pokok seperti beras atau bahan bakar semua menjadi panik. Dalam sebuah pertemuan di Bank Indonesia (BI) Mataram beberapa waklu lalu saya pernah menyampaikan untuk mempromosikan “konsumen cerdas”. Artinya, ketika harga daging melambung tinggi jangan dulu beli daging, ganti dengan ikan, ketika harga ikan naik ganti dengan produk lain yang menggantikan posisi ikan. Bahkan bila perlu sementara makan saja nasi dengan mie instant.
Ketika konsumen tidak membeli produk yang mengalami kenaikan itu selama dua hari saja, dapatkah pedagang untuk tetap menjual dengan harga tinggi? Hukum permintaan mengatakan ketika permintaan turun maka penawaran akan turun. Maka produsen akan menaikan permintaan dengan menurunkan harga. Kecuali tidak ada alternative lain (substitusi) akan barang tersebut.
Saya meyakini dengan semakin banyaknya swalayan di daerah harusnya inflasi tidak lagi bermasalah (ketika konsumen itu rasional). Kolega saya Dr. Iwan Harsono mengatakan produksi saat ini melimpah, tinggal persoalannya ada dan tiadanya produk itu pada waktu dan tempat yang benar.
Saya kira harga produk swalayan tidak akan ekstrim menaikan harga dalam waktu singkat dan ada banyak produk-produk pabrikan yang dapat menggantikan barang pertanian yang mengalami inflasi menggila itu. Walau itu untuk sementara saja.
Namun faktanya, ketika harga daging meninggi konsumen tetap saja membeli daging. Implikasinya, dengan harga tinggi permintaan produk tetap mengalami peningkatan sehingga akan terus mengalami kenaikan harga.
Ketika istri saya bercerita bahwa harga-harga dipasar mengalami kenaikan, harga daging saja kenaikannya dua kali lipat. Saya katakan padanya, ya sudah tidak usah beli daging dulu, beli yang lain sebagai penggantinya. Toh, kita tidak akan mati hanya karena tidak makan daging sehari atau dua hari ini.
Ingat, Deflasi Juga Penyakit
Dalam perkembanganya pemerintah umumnya pusing ketika inflasi melambung. Padahal harus disadari pula bahwa bukan hanya inflasi yang merupakan penyakit ekonomi tapi deflasi (penurunan harga) juga penyakit yang sama membahayakan perekonomian. Bedanya, inflasi itu penyakit bagi konsumen, namun pada posisi yang terlalu tinggi juga menjadi penyakit bagi produsen, karena tidak akan ada produk yang dijual dengan harga yang tidak lagi terjangkau oleh konsumen. Implikasinya produsen tidak akan menemukan konsumen yang akan membeli produknya di pasar.
Sedangkan deflasi adalah penyakit bagi produsen. Pada posisi deflasi yang berlebihan juga menjadi penyakit bagi konsumen. Karena tidak akan ada produk yang dijual bila harga jual tidak menguntungkan bagi produsen. Implikasinya konsumen tidak akan menemukan barang dan jasa di pasaran.
Sehingga demikian, persoalan inflasi harus disikapi dengan bijaksana oleh pemangku kepentingan. Karena inflasi pada posisi tertentu akan memberi dampak pada tumbuhnya keuntungan bagi produsen, sehingga dengannya skala usahanya meningkat dan serapan tenaga kerja menjadi meningkat pula.
Adalah sangat keterlaluan bila pada posisi inflasi yang sebenarnya masing relative wajar bahkan masih bisa ditenangkan, pemerintah menjadi panik dengan membuka keran import sebesar-besarnya. Apa implikasinya, produk menjadi melimpah di pasar dan harga menjadi tidak kompetitif lagi bagi petani atau pelaku usaha.
Akhirnya, memang posisi yang terbaik adalah posisi keseimbangan. Dengan posisi ekonomi seimbang, masyarakat (konsumen dan produsen) menjadi tenang beraktifitas. Namun yang perlu diperhatikan bahwa keseimbangan itu tidak mutlak menjadi dominan peran pemerintah, konsumen punya peran, produsen atau pedagang juga punya peran untuk itu. Tinggal bagaimana membangun kesadaran kolektif saja. (Firmansyah)
Sumber: http://www.lombokpost.net/2015/02/17/rasionalitas-konsumen-dan-inflasi/
Friday, 19 December 2014
BBM NAIK Rp. 2000, KOK RIBUT?
Serba serbi komentar
menanggapi kenaikan BBM masih saja terdengar di ruang-ruang publik. Di
media-media sosial misalnya, perang komentar yang pro dan kontra kenaikan terus
saja terjadi sampai hari ini.
Istilah-istilah
seperti “salam gigit jari”, “salam dua ribu” menjadi trading topic di media sosial seperti twitter dan facebook. Istilah-istilah
ini dihembuskan yang kontra kenaikan BBM dan kemungkinan dulunya tidak memilih
presiden Jokowi-Jk sebagai pilihan politiknya. Pendukung kebijakan presiden-pun
tidak kalah defensive mengatasi serangan, misalnya muncul ungkapan “naik Rp. 2000 saja kok ribut” atau “harga rokok naik tidak ribut, kok harga BBM
naik ribut” dan seterusnya.
Kalangan intelektual
yang mendukung kebijakan tidak popular ini bahkan masih ada yang menyepelekan
kenaikan harga BBM Rp. 2000. Alasannya cukup rasional, Negara butuh banyak
infrastruktur pendidikan dan kesehatan dari pada habis dibakar, digunakan
sia-sia untuk subsidi BBM.
Analogi Pak Mamat Tukang Kebun
Dalam menyederhanakan
perumpamaan, kita analogikan kehidupan Pak Mamat yang bekerja sebagai tukang
kebun. Pak Mamat adalah rakyat kecil yang akan mengalami langsung dari kenaikan
BBM.
Pak Mamat punya tiga
orang anak, dan ketiga-tiganya masih duduk dibangku sekolah. Kebutuhan sekolah
anak-anak, mulai dari baju seragam, perlengkapan tulis sampai uang jajan harus
dipenuhi pak Mamat. Sebagai penopang kebutuhan rumah tangga, syukurnya pak
Mamat dibantu istri berjualan kue di kampungnya.
Sebelumnya dengan
pendapatan yang pas-pasan Pak Mamat sesekali mampu memenuhi kebutuhan gizi
keluarganya, dengan membeli telur, susu dan kebutuhan lain. Karena pendapatan
dari berkebun tidak seberapa, namun penghasilan istri yang berjualan kue sangat
membantu untuk memenuhi kebutuhan sabun mandi, sabun cuci, kebutuhan dapur dan
seterusnya.
Tiba-tiba harga BBM
naik Rp. 2000. Pak Mamat menjadi pusing mengatur kembali pembelanjaan rumah
tangganya. Bila hanya BBM saja naik Rp. 2000 tidak jadi soal, masalahnya
kenaikan itu mendorong semua barang kebutuhan menjadi melonjak naik.
Pak Mamat bingung,
jangankan untuk memenuhi gizi kelurga dengan membeli telur dan susu, untuk beli
makanan pokok saja menjadi susah. Pak Mamat bertanya pada pedagang, kenapa
harus naik harganya? Pedagang menjawab, karena BBM naik pak, apa urusannya BBM
naik dengannya naiknya harga telur, susu dan lain-lain, kata pak Mamat. Telur
dan susu inikan adanya di kampung sebelah pak, untuk diangkut kesini kan pakai
transport, biaya transport kan naik karena BBM naik.
Di samping itu ayam
Ras yang menghasilkan telur inikan butuh pakan. Pakannya dijual oleh perusahaan
di kampung sebelahnya lagi, sehingga mendatangkan pakan juga harus pakai transport.
Dengar-dengar, di perusahaan pakan juga sedang masalah pak, soalnya pengolahan
pakan masih gunakan BBM untuk produksi, sementara BBMkan naik, belum lagi
karyawan nuntut naik gaji. Maka satu-satunya jalan kalau perusahaan rasional
adalah menaikan harga produknya, yaitu untuk memenuhi naiknya biaya produksi
dan upah karyawan.
Semua barang kebutuhan
sehari-hari pak Mamat nasibnya sama dengan produk telur di atas. Sehingga,
harga sabun mandi, sabun cuci, harga beras, sayur, kebutuhan anak-anak sekolah semua
menjadi naik gara-gara Rp. 2000 rupiah.
Nasib Bu Mamat tidak
kalah pelik. Harga-harga kebutuhan untuk buat kue sekarang melonjak naik. Bu
mamat mau tidak mau harus menaikan harga jualan kuenya. Sementara langganan bu
Mamat juga mengalami persoalan ekonomi yang sama dengannya. Boro-boro beli kue,
untuk beli makanan pokok saja sekarang kesulitan, sehingga Bu Mamat mengurangi
penjualan kuenya.
Ada Bantuan Tunai
Pak Mamat diberi tahu
bahwa akan ada kompensasi dari kenaikan BBM itu dari pemerintah. Namun setelah
dihitung uang kompensasi itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan satu bulan,
dengan pengiritan di sana sini. Uangnya sebagian disisihkan Bu Mamat untuk
modal beli bahan pembuatan kue. Masalahnya, langganan Bu Mamat tidak lagi mampu
membeli kue sebanyak sebelum BBM naik.
Dari waktu-kewaktu
masalah kenaikan harga BBM tidak lagi ramai dibicarakan orang. Di televisi yang
biasanya ramai bahas BBM sekarang tidak lagi. Mungkin bagi TV tidak menarik
lagi, masalah BBM sudah sering diulang.
Sepinya pembahasan
orang akan kenaikan Rp. 2000 harga BBM, bukan berarti kehidupan pak Mamat
kembali seperti semula. Pak Mamat yang bekerja sebagai tukang kebun harus
banting tulang memenuhi kebutuhan rumah tangganya dengan bekerja pada bidang
lain. Sehingga Pak Mamat sering sakit-sakitan karena kecapaian.
Pak Mamat masih bisa
bersyukur masih bisa bekerja memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang halal.
Beberapa hari yang lalu, tetangga pak Mamat babak belur digebukin masa karena
kepergok sedang mencuri di salah satu toko elektronik. Ketika ditanya alasannya
mencuri, jawabnya karena terdesak kebutuhan rumah tangga. Sementara dia hanya
sebagai buruh bangunan. Serba serbi komentar
menanggapi kenaikan BBM masih saja terdengar di ruang-ruang publik. Di
media-media sosial misalnya, perang komentar yang pro dan kontra kenaikan terus
saja terjadi sampai hari ini.
Istilah-istilah
seperti “salam gigit jari”, “salam dua ribu” menjadi trading topic di media sosial seperti twitter dan facebook. Istilah-istilah
ini dihembuskan yang kontra kenaikan BBM dan kemungkinan dulunya tidak memilih
presiden Jokowi-Jk sebagai pilihan politiknya. Pendukung kebijakan presiden-pun
tidak kalah defensive mengatasi serangan, misalnya muncul ungkapan “naik Rp. 2000 saja kok ribut” atau “harga rokok naik tidak ribut, kok harga BBM
naik ribut” dan seterusnya.
Kalangan intelektual
yang mendukung kebijakan tidak popular ini bahkan masih ada yang menyepelekan
kenaikan harga BBM Rp. 2000. Alasannya cukup rasional, Negara butuh banyak
infrastruktur pendidikan dan kesehatan dari pada habis dibakar, digunakan
sia-sia untuk subsidi BBM.
Analogi Pak Mamat Tukang Kebun
Dalam menyederhanakan
perumpamaan, kita analogikan kehidupan Pak Mamat yang bekerja sebagai tukang
kebun. Pak Mamat adalah rakyat kecil yang akan mengalami langsung dari kenaikan
BBM.
Pak Mamat punya tiga
orang anak, dan ketiga-tiganya masih duduk dibangku sekolah. Kebutuhan sekolah
anak-anak, mulai dari baju seragam, perlengkapan tulis sampai uang jajan harus
dipenuhi pak Mamat. Sebagai penopang kebutuhan rumah tangga, syukurnya pak
Mamat dibantu istri berjualan kue di kampungnya.
Sebelumnya dengan
pendapatan yang pas-pasan Pak Mamat sesekali mampu memenuhi kebutuhan gizi
keluarganya, dengan membeli telur, susu dan kebutuhan lain. Karena pendapatan
dari berkebun tidak seberapa, namun penghasilan istri yang berjualan kue sangat
membantu untuk memenuhi kebutuhan sabun mandi, sabun cuci, kebutuhan dapur dan
seterusnya.
Tiba-tiba harga BBM
naik Rp. 2000. Pak Mamat menjadi pusing mengatur kembali pembelanjaan rumah
tangganya. Bila hanya BBM saja naik Rp. 2000 tidak jadi soal, masalahnya
kenaikan itu mendorong semua barang kebutuhan menjadi melonjak naik.
Pak Mamat bingung,
jangankan untuk memenuhi gizi kelurga dengan membeli telur dan susu, untuk beli
makanan pokok saja menjadi susah. Pak Mamat bertanya pada pedagang, kenapa
harus naik harganya? Pedagang menjawab, karena BBM naik pak, apa urusannya BBM
naik dengannya naiknya harga telur, susu dan lain-lain, kata pak Mamat. Telur
dan susu inikan adanya di kampung sebelah pak, untuk diangkut kesini kan pakai
transport, biaya transport kan naik karena BBM naik.
Di samping itu ayam
Ras yang menghasilkan telur inikan butuh pakan. Pakannya dijual oleh perusahaan
di kampung sebelahnya lagi, sehingga mendatangkan pakan juga harus pakai transport.
Dengar-dengar, di perusahaan pakan juga sedang masalah pak, soalnya pengolahan
pakan masih gunakan BBM untuk produksi, sementara BBMkan naik, belum lagi
karyawan nuntut naik gaji. Maka satu-satunya jalan kalau perusahaan rasional
adalah menaikan harga produknya, yaitu untuk memenuhi naiknya biaya produksi
dan upah karyawan.
Semua barang kebutuhan
sehari-hari pak Mamat nasibnya sama dengan produk telur di atas. Sehingga,
harga sabun mandi, sabun cuci, harga beras, sayur, kebutuhan anak-anak sekolah semua
menjadi naik gara-gara Rp. 2000 rupiah.
Nasib Bu Mamat tidak
kalah pelik. Harga-harga kebutuhan untuk buat kue sekarang melonjak naik. Bu
mamat mau tidak mau harus menaikan harga jualan kuenya. Sementara langganan bu
Mamat juga mengalami persoalan ekonomi yang sama dengannya. Boro-boro beli kue,
untuk beli makanan pokok saja sekarang kesulitan, sehingga Bu Mamat mengurangi
penjualan kuenya.
Ada Bantuan Tunai
Pak Mamat diberi tahu
bahwa akan ada kompensasi dari kenaikan BBM itu dari pemerintah. Namun setelah
dihitung uang kompensasi itu hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan satu bulan,
dengan pengiritan di sana sini. Uangnya sebagian disisihkan Bu Mamat untuk
modal beli bahan pembuatan kue. Masalahnya, langganan Bu Mamat tidak lagi mampu
membeli kue sebanyak sebelum BBM naik.
Dari waktu-kewaktu
masalah kenaikan harga BBM tidak lagi ramai dibicarakan orang. Di televisi yang
biasanya ramai bahas BBM sekarang tidak lagi. Mungkin bagi TV tidak menarik
lagi, masalah BBM sudah sering diulang.
Sepinya pembahasan
orang akan kenaikan Rp. 2000 harga BBM, bukan berarti kehidupan pak Mamat
kembali seperti semula. Pak Mamat yang bekerja sebagai tukang kebun harus
banting tulang memenuhi kebutuhan rumah tangganya dengan bekerja pada bidang
lain. Sehingga Pak Mamat sering sakit-sakitan karena kecapaian.
Pak Mamat masih bisa
bersyukur masih bisa bekerja memenuhi kebutuhan hidup dengan cara yang halal.
Beberapa hari yang lalu, tetangga pak Mamat babak belur digebukin masa karena
kepergok sedang mencuri di salah satu toko elektronik. Ketika ditanya alasannya
mencuri, jawabnya karena terdesak kebutuhan rumah tangga. Sementara dia hanya
sebagai buruh bangunan.
Sumber: Koran Lombok Post
Saturday, 15 November 2014
UNRAM HARUS BERBENAH
4ICU
memposisikan UNRAM pada posisi 101 universitas terbaik se Indonesia. 4ICU
merupakan lembaga kredibel yang berkompetensi
mengurutkan universitas-universitas terbaik di dunia, tentu
dengan metodologi yang ketat. Posisi yang ditorehkan Unram harus diakui tidak sejalan dengan umurnya yang lebih
dari setengah abad saat ini. Harusnya Unram sudah masuk jajaran 50 besar terbaik.
Suka atau tidak suka ini adalah cambuk bagi seluruh keluarga
besar Unram untuk mulai berbenah diri. Bukan hanya tugas pimpinan, tapi hal-hal
kecil yang bisa dilakukan oleh dosen, mahasiswa harusnya direalisasikan, tidak
diendapkan.
Sunday, 26 October 2014
Rationality of Crime
DALAM suatu kesempatan Gerry Becker, ekonom kenamaan Universitas Chicago dan pemenang Nobel Ekonomi 1992 melaju mobilnya untuk menghadiri rapat di kampusnya. Rapat itu cukup penting bagi Becker, sehingga harus hadir tepat waktu. Ketika sampai di kampus Becker menemukan lokasi parkir yang telah penuh terisi, sementara rapat tengah menantinya segera. Apa yang harus dilakukan Becker? Baca lebih lanjut
Monday, 13 October 2014
Bila Harus lepas, Maka Lepaskanlah
Pemprov NTB gagal membujuk Maskapai Jet-Star untuk tetap mengudara di
langit NTB. Padahal, sudah banyak upaya yang dilakukan, salah satunya keberangkatan
Wakil Gubernur dan Tim ke Australia untuk bernegosiasi dengan manajemen Jet
Star.
Pemprov menyanggupi untuk membayar subsidi dalam bentuk market fund sebesar 1 milliar rupiah
kepada Jet-Star asal Jet-Star tetap bertahan, namun tidak juga memberi hasil. Terakhir
terdengar kabar BPBD NTB akan melobi Garuda Indonesia untuk mengisi kekosongan
rute Perth-Lombok yang ditinggalkan Jet-Star.
Saturday, 11 October 2014
Target Penurunan Kemiskinan NTB
Kita mesti hargai keinginan Gubernur untuk menaikan
target penurunan kemiskinan NTB dari 1 persen menjadi 2 persen pertahun.
Implikasinya RPJMD harus direvisi, rentang waktu 2013- 2018 diharapkan NTB mampu
menekan kemiskinan lebih kuat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Keinginan
Gubernur ini, perlu kita apresiasi dan menjadi pemacu kerja mesin birokrasi NTB
ke depan.
Universitas Teknologi Sumbawa (UTS)
UTS (Universitas Teknologi Sumbawa) dinyatakan resmi beroperasi setelah dikeluarkannya ijin penyelenggaraan pendidikan oleh Dirjen Dikti tertanggal 14 Maret 2013 lalu. Bagi masyarakat NTB, Pulau Sumbawa khususnya pendirian UTS menjadi angin segar bagi dunia pendidikan di daerah ini, yang konon dianggap kualitas SDMnya selalu saja di posisi bawah.
Saya peribadi tidak meragukan kapasitas para pengagas UTS, dibalik nama-nama besar mereka terdapat keseriusan dan kerja keras untuk membangun UTS dan sumber daya manusia Pulau Sumbawa umumnya. Mereka adalah ahli-ahli yang mumpuni dibidangnya dan tidak asing lagi dalam pergaulan nasional bahkan internasional. Baca Lebih Lanjut
Catatan Saat Menjadi Juri Olimpiade Sains Nasional (OSN)
Olimpiade Sains Nasional (OSN) 2014 berlokasi di NTB. Ribuan peserta
dari tingkat SD, SMP dan SMA berdatangan dari seluruh penjuru tanah air. Mereka
adalah murid-murid terbaik, yang sudah melalui tahapan seleksi di tingkat
sekolah, kabupaten/kota dan provinsi masing-masing.
Penulis adalah salah satu juri OSN bidang ekonomi dari Unram, di samping
dosen-dosen lain seperti dari Universitas Indonesia, UGM, Universitas
Brawijaya, Universitas Negeri Malang. Juri juga ada dari Bank Indonesia dan
Bursa Efek Indonesia. Dilihat dari komposisi juri dapat ditebak, anak-anak kita
di samping harus menguasai materi-materi sains ekonomi, peserta juga harus
paham tema kebangsentralan, OJK dan bursa efek.
Newmont Mencabut Gugatan Arbitrase
Langkah yang
dilakukan Newmont mencabut gugatan arbitrase internasional dipuji beberapa
kalangan. Langkah itu dianggap lebih rasional dari pada Newmont harus bertarung “head to head” dengan pemerintah Indonesia dalam
pengadilan tingkat dunia tersebut.
Melanyangkan arbitrase banyak dikecam beberapa kalangan, Newmont dianggap tidak punya itikad baik untuk meningkatkan kapasitas ekonomi Negara yang mereka keruk kekayaannya puluhan tahun. Hanya karena diwajibkan membangun smelter, Newmont harus menempuh jalur hukum. Kekecewaan juga ditunjukan pemerintah daerah, upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk melobi pemerintah pusat tidak dianggap penting.
Akhirnya, pencabutan arbitrase internasional melegakan banyak pihak. Lebih-lebih karyawan Newmont, penantian akan kepastian nasib barangkali akan segera terkuak dengan terbitnya secercah harapan. Beberapa bulan dirumahkan tentu hal yang tidak mengenakan bagi karyawan. Sehingga, semua berharap dalam waktu dekat ada pembicaraan yang lebih intens antara pemerintah pusat dan manajemen terkait kelanjutan operasi PT. Newmont dan bentuk-bentuk negosiasi lainnya.
Melanyangkan arbitrase banyak dikecam beberapa kalangan, Newmont dianggap tidak punya itikad baik untuk meningkatkan kapasitas ekonomi Negara yang mereka keruk kekayaannya puluhan tahun. Hanya karena diwajibkan membangun smelter, Newmont harus menempuh jalur hukum. Kekecewaan juga ditunjukan pemerintah daerah, upaya yang dilakukan pemerintah daerah untuk melobi pemerintah pusat tidak dianggap penting.
Akhirnya, pencabutan arbitrase internasional melegakan banyak pihak. Lebih-lebih karyawan Newmont, penantian akan kepastian nasib barangkali akan segera terkuak dengan terbitnya secercah harapan. Beberapa bulan dirumahkan tentu hal yang tidak mengenakan bagi karyawan. Sehingga, semua berharap dalam waktu dekat ada pembicaraan yang lebih intens antara pemerintah pusat dan manajemen terkait kelanjutan operasi PT. Newmont dan bentuk-bentuk negosiasi lainnya.
KEK MANDALIKA: Dalam Tinjauan Ilmu Ekonomi
Beberapa waktu lalu, saya dan kolega (Dr. Hermanto dan Dr. Taufik
Chaidir) dapat disposisi dari Pak Dekan untuk menghadari rapat evaluasi
perkembangan KEK (Kawasan Ekonomi Khusus) Mandalika di Ruang Sidang Utama
Gubernur NTB. Rapat dipimpin langsung Pak Sekda NTB. Turut hadir saat itu, Profesor
dan Peneliti hubungan internasional dari Jepang, peneliti, anggota dewan
kawasan dan seorang investor dari India. Sebagian dari mereka adalah Tim yang
telah melatih beberapa pihak (birokrat dan akademisi) di NTB untuk pengembangan
kawasan KEK yang diselenggarakan di Jakarta dan sebagian dikirim ke Jepang.
Saya dan kolega merasa sedikit kecewa. Dalam rapat itu Kami sama sekali tidak
diberi kesempatan untuk ikut menyumbangkan argumentasi. Saya maklumi, mungkin
Pak Sekda ada keperluan lain sehingga rapat yang dimulai jam 9 pagi harus
berakhir jam 11 lebih sedikit. Jadi kami disuruh datang mendengarkan saja dan
setelah itu pulang.
Dr. Agusdin (kolega saya juga di Fakultas) memberi pemaparan singkat
akan hasil pelatihannya di Jakarta dan di Jepang dalam mendesign KEK Mandalika.
Hasilnya, saya sedikit kaget, desain KEK yang ditawarkan untuk Mandalika tidak
jauh beda dengan yang ada dalam literature. Tidak ada kareteristik unik seperti
yang saya bayangkan sejak disetujuinya KEK oleh Presiden SBY.
Jalan Arbitrase PT. Newmont
Dampak dari penerapan UU Migas 2009
memasuki babak baru. Setelah pemerintah menerapkan pajak ekspor bahan mentah
hasil tambang, dalam memaksa perusahaan membangun smelter kemudian disikapi
dengan merumahkan 80 persen karyawan. Akhirnya, PT. Newmont mengambil jalan
final yaitu arbitrase internasional.
Arbitrase diambil setelah tidak
ditemukan kata sepakat antara pemerintah dengan Newmont. Newmont berharap untuk
diberi ijin mengeskpor bahan mentahnya, dengan uang jaminan 25 juta dollar
untuk pembangunan smelter di dalam negeri.
Injeksi Dana Pada Jet-Star
Keinginan Pemprov NTB menutupi kerugian maskapai penerbangan
milik Australia, Jet-Star yang hilir mudik Perth-Lombok mendapat tanggapan beragam.
Beberapa fraksi DPRD menganggap upaya Pemrov dengan skema market fund tersebut kurang tepat. Karena masih banyak kebutuhan
lain yang perlu di kedepankan.
Jet-Star dilaporkan mengalami kerugian, karena rute
BIL-Perth tidak mampu menyerap penumpang sebagaimana diharapkan perusahaan.
Penumpang Perth menuju BIL cukup memadai, namun tidak sebaliknya.
Subscribe to:
Posts (Atom)
EKSPOS RENCANA PENYUSUNAN MASTER PLAN EKONOMI GARAM NTB
EKSPOS RENCANA PENYUSUNAN MASTER PLAN EKONOMI GARAM NTB DR. M FIRMANSYAH (DOSEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS) MENUNJU INDUSTRIALIS...
-
Nama : Dr. M Firmansyah Pekerjaan : Dosen FEB UNRAM Spesialisasi : Institutional Economics dan Regional Economics Planning...
-
Oleh: Dr. M Firmansyah (Dosen FEB Universitas Mataram dan Tim Penasehat Investasi NTB) Masyarakat Kabupaten Bima secara mayoritas...