Tuesday, 29 March 2016

JENGGOT MENGGANGU AKTIVITASMU....?

Sahabat, suatu ketika saya ditegur orang tua, “Nak, cukur jenggotmu, untuk apa pelihara jenggot, nanti tidak ada yang pakai dengan penampilanmu seperti ini”. Saya hanya tersenyum menyikapi nasehat orang tua. Beliau benar-benar khawatir anaknya tidak bisa menggapai cita-cita gara-gara memanjangkan jenggot.

Sahabat, saya ingin katakan bahwa saya ini awam akan agama, ngaji masih banyak kelirunya. Suatu waktu saya pernah minta diajari ngaji sama anak pesantren. Subhanallah, hampir tidak ada yang benar tajwid yang saya baca. Saya hanya hafal beberapa surat pendek, saya merasa malu untuk itu.
Saya memiliki keyakinan bahwa saya sangat mencitai baginda Nabi Muhammad saw. Tidak ada manusia yang saya idolakan selain beliau, walau banyak perintah beliau yang absent saya lakukan. Jenggot ini mungkin kecil maknanya, tapi setiap saya memegangnya saya membayangkan nabi kita tercinta.

Sahabat, alhamdullilah, sudah lebih dari 10 tahun jenggot menjadi identitas diri saya. Alhamdullilah Allah tidak juga menyia-nyiakan hamba-Nya yang mau berusaha dan berdoa. Berbagai tim saya ikut terlibat di pemerintahan provinsi, sehingga berbagai rapat penting pemerintahan saya ikuti, saya mengenal pejabat-pejabat teras di provinsi saya. Berbagai seminar saya diundang sebagai pembicara, beberapa kali sebulan saya menjadi host di televisi siaran live tanpa sedikitpun terganggu dengan penampilan saya.

Saya akan tetap berjalan dengan keyakinan kecil ini, bahwa jenggot ku sebagai bentuk keinginan untuk meniru nabiku, kekasihku. Saya hanya berdoa semoga hal kecil ini menjadi berat timbangannya di mata Allah. SWT ditengah kemampuan dan kekuatan iman yang sedemikian lemahnya.

Saturday, 26 March 2016

#AKU CINTA INDONESIA#

Sahabat, Suatu ketika saya melontarkan pertanyaan pada seorang kawan, pentingkah menurutnya menggemakan suara "AKU CINTA INDONESIA" untuk meningkatkan penjualan produk-produk nasional kita di era pedagangan bebas saat ini. Jawaban simpel keluar dari mulutnya, "bicara cinta ya, cinta kalau lebih murah ya kita pilih barang luar negeri"

Saya katakan ini perilaku rasional, entar dulu bicara nasionalisme, kalau kau jual lebih mahal namun kualitasnya rendah tidak akan dihampiri pembeli. Atau produkmu tidak punya nama yang mengangkat derajat pembeli maka percuma. Walaupun di KTPmu tertulis benar-benar asli Indonesia.

Saya juga yakin, mereka yang memperjuangkan nasionalisme, cinta produk-produk indonesia juga milih-milih. Beli di Mall besar, pakaian-pakaian luar negeri, sepatu italia, parfum perancis dan seterusnya. Karena berlanja terkait preferensi kenyamanan dan juga gaya hidup, maka yang mendukung kenyamanan (kualitas dalam bentuk dan kompetitif dalam harga) serta mengangkat status sosial yang laris manis terjual.

Kalau sekedar minum kopi, kenapa milih Starbucks, bukan warung kopi pinggir jalan. Bila berkeinginan makanan donat kenapa harus Dunkin Donuts bukan donat jajanan pasar? Disinilah tantangan pembangunan bisnis lokal yang tengah diserbu produk-produk asing.

Namun demikian, saya tetap yakin perlu yang namanya sosialisasi. Satu persen saja manusia Indonesia sadar dari 250 juta penduduk tentu pergerakan ekonomi lokal akan cukup dinamis. Tapi bukan tanpa usaha perbaikan dari sisi suply, produk kita harus terus diperbaiki kualitasnya dan kompetitif harganya.

Lalu apa yang perlu dilakukan pemerintah? kata orang tidak kenal maka tidak sayang, tidak sayang maka tidak akan mau beli. Artinya, harus diekspos kemasyarakat sebenarnya produk-produk asli punya Indonesia itu yang mana? Gerakan Cinta Indonesia harus secara simultan dilakukan untuk meningkatkan penjualan produk kita, minimal pada masyarakat kita sendiri.

Demikian, Sahabat

salam Dr. M Firmansyah

INTELLECTUAL JOURNEY


Sahabat......Alhamdullilah wa syukurillah, anugrah Allah yang luar biasa. Perjalanan karir akademis saya, disetiap pengembaraan intelektual cukup menyenangkan, tidak patut untuk tidak disyukuri nikmat itu. Saya berharap hidup saya tetap mewarnai Semerbaknya Dunia Gagasan. Amiinn


Thursday, 24 March 2016

BUPATI BARU BIMA: EKSPETASI, TANTANGAN DAN PELUANG


Oleh:
Dr. M Firmansyah
(Dosen FEB Universitas Mataram dan Tim Penasehat Investasi NTB)

Masyarakat Kabupaten Bima secara mayoritas memilih Dinda-Dahlan sebagai Bupati dan Wakil Bupati. Sejarah kemudian mencatat, Kabupaten Bima saat ini dipimpin perempuan pertama sepanjang sejarah Bima dan juga NTB.

Ekspektasi masyarakat akan dae Dinda cukup besar, sebagian masyarakat Bima meyakini, beliau mampu menjadikan Bima sebagai daerah yang lebih baik, lebih sejatera dari sebelumnya. Ekspektasi yang tidak sesuai harapan punya implikasi serius, legitimasi pemerintahan menjadi redup, bahkan menjadi preseden buruk bagi generasi terbaik perempuan lain yang ingin menjadi kepala daerah selanjutnya.

Friday, 8 January 2016

Sektor Manufaktur Solusi Turunkan Kemiskinan

MATARAM – Pengembangan sektor manufaktur merupakan salah satu solusi menurunkan angka kemiskinan dalam jangka panjang. Di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang mulai membaik saat ini, manufaktur sebagai bagian dari sektor ril diyakini mampu menyerap tenaga kerja lebih banyak.
Walau di sisi lain, ada banyak faktor yang mendorong. Seperti realisasi anggaran belanja pemerintah. Serta optimalnya pemerintah menghadapi perdagangan bebas, anggaran dana desa, remitansi TKI, hingga penurunan harga BBM dan LPG.
“Saya kira, kita perlu angkat topi atas capaian ini,” ujar Pengamat Ekonomi dari Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Mataram, Dr M Firmansyah pada Lombok Post, kemarin (6/1).
Kata dia, yang perlu diantisipasi pada bulan Maret 2016 adalah jangan sampai penurunan kemiskinan tidak permanen. Akibat maraknya sentuhan program pemerintah yang memungkinkan orang miskin kembali menjadi tinggi.
“Sektor manufaktur adalah upaya terbaik. Bukan dari APBD, walau sebagai langkah awal yang dicapai ini patut diapresiasi,” katanya.
Tahun ini, sebaiknya pemerintah dari hulu sampai hilir harus memprogramkan industrialisasi. Pemerintah harus terus memacu kerjanya di tahun ini. Buat dan harus ada road map dalam menghadapi MEA dan pengentasan kemiskinan,” tegas Firmansyah.
Berbicara perilaku masyarakat bila dilihat dari konteks teori bounded rationality dipengaruhi dua aspek. Yaitu, struktur lingkungan dan serapan informasi. Menurutnya, inilah yang perlu didesain kelembagaannya. Artinya, NTB harus memiliki lingkungan yang pro daya saing, pro industrialisasi lokal dan budaya maju lainnya.
Begitupun dengan masalah hambatan informasi harus dibenahi. Jika tidak, dapat menyebabkan biaya transaksi meningkat. Serta munculnya calo, makelar, begitu juga konsumen maupun produsen tidak punya informasi yang memadai.
Kemudian, road map yang telah dibuat pemerintah dilanjutkan tahapan pengerjaannya. Bila perlu tiap tahapan tersebut dipublikasikan, agar pemerintah tidak dianggap potong kompas. Terpenting, pemerintah sudah meletakan tahapan-tahapan untuk ke arah masyarakat yang semakin mandiri. Bila masing-masing tahapan itu belum tercapai, segera dievaluasi apa kendalanya, dan bagaimana solusinya.
“Kalau kemiskinan diturunkan hanya melalui proyek, ya pasti akan kembali miskin lagi bila tidak tersentuh proyek. Saya sendiri belum lihat langkah itu,” katanya. (ewi/r4)

sumber: http://www.lombokpost.net/2016/01/07/sektor-manufaktur-solusi-turunkan-kemiskinan/

Sunday, 29 November 2015

RASIONALITAS KONSUMEN DAN INFLASI

Fondasi yang dibangun dalam konstruksi teori ekonomi adalah human rationality. Manusia dikatakan selalu berperilaku rasional, artinya lebih suka yang banyak dari yang sedikit, menghitung untung rugi (materialistis) sebelum berperilaku dan selalu menyukai kesenangan dan menghindari kepayahan, demikian menurut filosuf J. Bentham.
Pemikir-pemikir psikologi yang mencoba memahami dan meramu perilaku ekonomi tidak sependapat dengan konstruksi tersebut. Manusia berperilaku tidak saja melulu didorong oleh faktor ekonomi yang dihitung dalam nilai moneter (uang) tapi juga ada faktor-faktor lingkungan atau kelembagaan, psikologi (delusi) dan kehidupan sosial lainnya. Pemikir ekonomi psikologi ini menjadi satu bagian dalam ilmu ekonomi yang dikenal dengan behavior economics.
Bila dipikir-pikir, buat apa masyarakat kita susah payah mengumpulkan uang untuk merayakan maulid nabi bila tidak didorong oleh nilai-nilai dalam masyarakatnya. Sudah tahu orang banyak penjara karena korupsi, tapi kenapa masih saja ada pejabat yang korupsi. Di sinilah salah satu fakta bahwa manusia terkadang tidak rasional (perspektif teori) dalam berperilaku. Tidak rasional dalam perspektif ekonomi menjadi rasional dalam konteks misalnya kelembagaan ekonomi.
Irasional Konsumen dan Inflasi
Bila sekiranya manusia selalu berpikir rasional maka tidak diperlukan tim pengendali inflasi. Semua akan berjalan menuju keseimbangan. Sebagian besar perokok tahu bahwa merokok dapat merugikan kesehatannya, tapi kenapa tetap banyak perokok, yang menyebabkan permintaan akan rokok meningkat. Walau dengan menempel gambar seram (penyakit macam-macam) pada sampul rokok tidak juga menurunkan niat orang merokok. Sama halnya dengan minuman keras. Sehingga, betapa banyak orang yang membeli barang yang tidak terlalu dibutuhkannya bahkan merugikannya.
Saya merenung dan berpikir, kenapa ketika harga produk naik kecuali barang pokok seperti beras atau bahan bakar semua menjadi panik. Dalam sebuah pertemuan di Bank Indonesia (BI) Mataram beberapa waklu lalu saya pernah menyampaikan untuk mempromosikan “konsumen cerdas”. Artinya, ketika harga daging melambung tinggi jangan dulu beli daging, ganti dengan ikan, ketika harga ikan naik ganti dengan produk lain yang menggantikan posisi ikan. Bahkan bila perlu sementara makan saja nasi dengan mie instant.
Ketika konsumen tidak membeli produk yang mengalami kenaikan itu selama dua hari saja, dapatkah pedagang untuk tetap menjual dengan harga tinggi? Hukum permintaan mengatakan ketika permintaan turun maka penawaran akan turun. Maka produsen akan menaikan permintaan dengan menurunkan harga. Kecuali tidak ada alternative lain (substitusi) akan barang tersebut.
Saya meyakini dengan semakin banyaknya swalayan di daerah harusnya inflasi tidak lagi bermasalah (ketika konsumen itu rasional). Kolega saya Dr. Iwan Harsono mengatakan produksi saat ini melimpah, tinggal persoalannya ada dan tiadanya produk itu pada waktu dan tempat yang benar.
Saya kira harga produk swalayan tidak akan ekstrim menaikan harga dalam waktu singkat dan ada banyak produk-produk pabrikan yang dapat menggantikan barang pertanian yang mengalami inflasi menggila itu. Walau itu untuk sementara saja.
Namun faktanya, ketika harga daging meninggi konsumen tetap saja membeli daging. Implikasinya, dengan harga tinggi permintaan produk tetap mengalami peningkatan sehingga akan terus mengalami kenaikan harga.
Ketika istri saya bercerita bahwa harga-harga dipasar mengalami kenaikan, harga daging saja kenaikannya dua kali lipat. Saya katakan padanya, ya sudah tidak usah beli daging dulu, beli yang lain sebagai penggantinya. Toh, kita tidak akan mati hanya karena tidak makan daging sehari atau dua hari ini.
Ingat, Deflasi Juga Penyakit
Dalam perkembanganya pemerintah umumnya pusing ketika inflasi melambung. Padahal harus disadari pula bahwa bukan hanya inflasi yang merupakan penyakit ekonomi tapi deflasi (penurunan harga) juga penyakit yang sama membahayakan perekonomian. Bedanya, inflasi itu penyakit bagi konsumen, namun pada posisi yang terlalu tinggi juga menjadi penyakit bagi produsen, karena tidak akan ada produk yang dijual dengan harga yang tidak lagi terjangkau oleh konsumen. Implikasinya produsen tidak akan menemukan konsumen yang akan membeli produknya di pasar.
Sedangkan deflasi adalah penyakit bagi produsen. Pada posisi deflasi yang berlebihan juga menjadi penyakit bagi konsumen. Karena tidak akan ada produk yang dijual bila harga jual tidak menguntungkan bagi produsen. Implikasinya konsumen tidak akan menemukan barang dan jasa di pasaran.
Sehingga demikian, persoalan inflasi harus disikapi dengan bijaksana oleh pemangku kepentingan. Karena inflasi pada posisi tertentu akan memberi dampak pada tumbuhnya keuntungan bagi produsen, sehingga dengannya skala usahanya meningkat dan serapan tenaga kerja menjadi meningkat pula.
Adalah sangat keterlaluan bila pada posisi inflasi yang sebenarnya masing relative wajar bahkan masih bisa ditenangkan, pemerintah menjadi panik dengan membuka keran import sebesar-besarnya. Apa implikasinya, produk menjadi melimpah di pasar dan harga menjadi tidak kompetitif lagi bagi petani atau pelaku usaha.
Akhirnya, memang posisi yang terbaik adalah posisi keseimbangan. Dengan posisi ekonomi seimbang, masyarakat (konsumen dan produsen) menjadi tenang beraktifitas. Namun yang perlu diperhatikan bahwa keseimbangan itu tidak mutlak menjadi dominan peran pemerintah, konsumen punya peran, produsen atau pedagang juga punya peran untuk itu. Tinggal bagaimana membangun kesadaran kolektif saja. (Firmansyah)

Sumber: http://www.lombokpost.net/2015/02/17/rasionalitas-konsumen-dan-inflasi/

Pemerintah Dituntut Kembangkan UMKM

Hadapi Masyarakat Ekonomi ASEAN

pemerintah-dituntut-kembangkan-umkm

JAKARTA  - Pengamat ekonomi dari Universitas Mataram, Nusa Tenggara Barat, Dr M Firmansyah, mendorong pemerintah untuk menjadikan 2016 sebagai tahunnya usaha mikro, kecil dan menengah karena sudah diberlakukannya perdagangan bebas Masyarakat Ekonomi ASEAN (MEA).

"Mengingat tahun 2016 adalah eranya perdagangan MEA, kita tentu berharap, baik secara nasional maupun lokal ada keberpihakan pemerintah dalam mengembangkan usaha mikro, kecil menengah (UMKM)," kata Dr M Firmansyah, di Mataram, Jumat (13/11).

Tim Penasehat Investasi Nusa Tenggara Barat (NTB) ini lebih lanjut memaparkan data Bank Indonesia (BI) terkait sebaran alokasi kredit provinsi-provinsi di Indonesia untuk UMKM.

Total penyaluran kredit di NTB tercatat Rp28,23 triliun dari total kredit secara nasional Rp3.914,7 triliun. Dari jumlah porsi penyaluran kredit NTB itu, sebesar Rp6,7 triliun atau 23,7 persen teralokasi untuk sektor UMKM.

"Dari data itu saya anggap porsi pembiayaan untuk UMKM masih sangat kecil. Saya tidak tahu, apakah UMKM memang terbatas mengajukan kredit atau permintaan kredit tinggi, namun kepercayaan perbankan terhadap UMKM masih belum maksimal," katanya.

Menurut dia, pemerintah harus betul-betul memberikan keberpihakan kepada pelaku UMKM karena pada umumnya bahan baku UMKM bersumber dari lokal, menyerap tenaga kerja lokal. Selain UMKM maju dan untung, lanjut Firmansyah, hasil keuntungan juga dikonsumsi di tempat lokal.

"Saya tidak tahu seberapa porsi untuk UMKM dalam APBN 2016 dan berapa persen juga UMKM menjadi bagian dari APBD NTB ke depan," ujarnya.

Namun, kata dosen Fakultas Ekonomi Universitas Mataram ini, sejauh ini belum terlihat "master plan" yang cukup jelas terkait mau dikembangkan seperti apa UMKM ke depan.

Menurut Firmansyah, membangun UMKM tidak boleh hanya berhenti pada pemberian modal, pelatihan usaha tapi harus juga dikreasikan juga pasarnya.

Upaya menyiapkan pasar UMKM, tiada lain adalah melokalisir di pusat-pusat kerumunan dan tujuan kunjungan. Pemerintah juga harus segera memblokir area-area itu untuk memasarkan produk UMKM.

"Saya merasa sedih, ketika berkunjung di suatu lokasi wisata budaya ternama di Lombok, di sebelahnya terbangun pasar modern. Ritel modern itu telah mengambil peluang yang seharusnya dapat dilakukan oleh masyarakat lokal," katanya.

Sumber: http://www.balikpapanpos.co.id/berita/detail/176890-pemerintah-dituntut-kembangkan-umkm.html

EKSPOS RENCANA PENYUSUNAN MASTER PLAN EKONOMI GARAM NTB

EKSPOS RENCANA PENYUSUNAN MASTER PLAN EKONOMI GARAM NTB DR. M FIRMANSYAH (DOSEN FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS) MENUNJU INDUSTRIALIS...